Senin, 13 Juni 2011

Pelupa Berat...



Oke... Aku ngaku, aku ini punya kelemahan dalam mengingat umur, alamat, nama bahkan wajah orang. Baru saja aku berkenalan dengan seseorang, tiba-tiba aku bisa lupa siapa nama orang itu. Semua info itu memang masuk ke otakku, tapi hanya sebatas mengucapkan "hai" lalu dengan segera semua info itu pergi lagi. Jadi jangan ngambek kalau seandainya kamu chat denganku, lalu tiba-tiba aku bertanya berapa umurmu untuk yang kelima kalinya, atau bertanya di mana kamu tinggal untuk ketujuh kalinya, atau tiba-tiba aku bilang, "Wah di tempatmu kan makanan khasnya empek-empek," padahal udah lima kali kamu bilang kalau kamu bertempat tinggal di Semarang. Bukan karena kamu tidak penting sehingga mudah dilupakan, tapi karena aku adalah pelupa berat. Sampai-sampai aku lupa nama blog-ku, sehingga blog ini jarang di-up date (Lebay mode on).

Nah bagaimana kalau si pelupa ini bertemu dengan teman SMP-nya? Mari kuceritakan kisahku di weekend ini. Saat aku dan Mel jalan-jalan ke mall mencari kado ulang tahun salah seorang teman, sekonyong-konyong aku dikejutkan oleh seorang perempuan yang berlari kencang ke arahku dan serta merta memeluk tubuhku, mungkin lebih tepatnya menomprok tubuhku. Aku hampir limbung oleh tabrakan tubuhnya yang besar, untung saja aku ingat jurus-jurus Kung Fu yang diajarkan oleh kakek moyang, dengan kekuatan tenaga dalam, aku menghentak tubuhku hingga tidak terjatuh.

"Deniiiiiiiiiiiiiii, kangen gue." Perempuan itu mencium pipiku kiri dan kanan, kebayangkan gimana mukanya Mel, mirip banget kayak nenek-nenek yang ketelak sirih. "Makin montok aja lo!" Pempuan itu mencubit kedua pipiku, wajahku yang inoncent pasti makin terlihat imut saat itu.
"Busyeet!" Hanya kata itu yang terucap dari bibirku
"Deni, elo inget gue kan??? Waktu SMP gue duduk di depan bangku lo??? Awas lo ya kalau lupa. Inget kan lo?"

Jujur aku lupa, tapi melihat semangat dan kehebohan perempuan itu, aku jadi nggak tega kalau harus jujur, jadi terpaksa deh aku melakukan kebohongan. "Inget dong!"
"Hayo, siapa nama gue?" Nah loh, kalau sudah ditanya gini aku bakal keluar keringat dingin. Wajahnya seh masih aku ingat dikit-dikit, tapi untuk mengingat namanya bener-bener nggak ada penerawangan sama sekali deh. Hm... siapa yah namanya? Dian kali ya? Ah masa seh Dian? Hm... Tapi kata orang nama pertama yang muncul di otak, pasti nama itulah yang benar.

"Ya gue inget elo-lah" Aku menepuk-nepuk punggungnya, perempuan itu langsung nyengir lebar, "Gue inget dong sama elo Dian."
Perempuan itu melihat wajahku dan langsung meluncurkan protes, "Dian??? Gue bukan Dian, NGACO!"
Mel langsung melirikku, seolah dia ingin mengisyaratkan bahwa dia punya firasat buruk. Aku hanya tersenyum, mencoba menebak lagi.
"Mutia ya?"
"Bukan!"
"Ah pasti Betrix"
"Bukan"
"Chirstine"
"Ngaco"
"Ah... Catur kan?"
"Halah bukan"
"Nia ya?"
"Bukan"
"Amanda?"
"Bukan"
Mel cengo abis mendengar percakapan kami yang tidak jelas.
"Aduh siapa seh lo? Ayu? Nunging? Novi?"
"Bukan, bukan bukan."
"Nola? Nana? Selly?"
"Bukan semua"
"Asih? Amir? Joko? Parto? Memet? Jalangkung? Kuntilanak? Kolongwewe?"
"BUKAN... NGACO LO!!!"
"Iya, Jadi siapa dong?"
"Gue Anisa Den... Masa elo lupa."
Aku dan Mel menarik nafas lega. Seolah penderitaan telah berakhir.

"Ya ampuuuun... Iya iya... Gue inget sekarang. Elo Nisa, Nur Anisa..."
"Ngaco lagi lo Den, nama panjang gue bukan Nur Anisa. Ngaco lo!"
"Siapa dong? Khairunisa?"
"Bukan!"
"Anisawati?"
"Bukan."
"Anisa Triastuti?"
"Bukan."
"Anisa Soebandono?"
"Ngaco Lo, itu mah artis. Alyssa Seobandono kale!"
"Anisa Wibisono?"
"Bukan."
"Sapa dong? Anisa Bahar?"
"Bukan. Itu mah penyanyi dangdut."
"Anisa Winata?"
"Bukan!"
"Anisa Prancis? Anisa Monalisa?"
"BUKAN!!!"
"Anisa Arwarna?"
"Itu mah Tukul Den."
"Aduh... Siapa seh??? Anisa Sukmawati?"
"Bukan, bukan!"
"Anisa Pangastuti?"
"Halah."
"Oke.. oke gue nyerah, Anisa siapa seh???"
"Anisa Sulaiman..."

Lagi-lagi, Aku dan Mel menarik nafas lega...
"Oh Iya... Anisa Sulaiman... Elo yang duduk sama Ello kan yha?"
"Bukan..."

Mel yang sudah tidak kuat menangung penderitaan ini, segera mengginggalkan aku dan Anisa

"Sama Rully?"
"Bukan."
"Anto? Juki? Yudi?"
"Bukan, bukan bukan!"
"Ahmad? Subandi?."
"Udah.. udah udah Den. Gue dah cape. Yang duduk sama gue itu Adhi."
Aku menarik nafas lega, kali ini sendiri karena Mel sudah hilang entah kemana.

"Oh iya Adhi. Adhi yang nama panjangnya..."
"UDAH CUKUP DEN!!! Gue udah nggak kuat..."
"Huahahhahaha." Aku tidak mampu menahan tawa melihat Anisa yang kelelahannya seperti habis memandikan 5 ekor gajah dan memberi minum 10 ekor unta. Aku yakin Anisa bener-bener kapok dan nyembah nyembah sama Tuhan supaya tidak bertemu aku lagi.

Setelah mengakhiri percakapan panjangku dengan Anisa yang sebenernya isi percakapan itu didominasi oleh tebak menebak, aku mendapati Mel sudah duduk di kursi Mc Donald dengan satu cup McFlurry yang sudah hampir habis.
"Aku udah pesenin cocacola neh... Pasti kamu capek banget kan?"
"Ho oh, iya..."

Ulang Tahunmu Kali Ini...


Entah kalimat apa lagi yang harus aku tulis untuk mengungkapkan cintaku padamu. Kalau seluruh dedaunan menjadi kertas dan lautan menjadi tinta, maka pohon-pohon tak lagi berdaun dan lautan telah habis kering. Sebab tiap detik aku memetik dedaunan itu dan menuliskan puisi cinta untukmu.

Jadi aku bingung ingin menulis apa di hari ulang tahunmu ini. Bukankah ciuman yang kuhadiahkan di keningmu semalam lebih dari jutaan puitis? Dan bukankah bait-bait doa yang kita panjatkan semalam telah mengungkapkan semua rasa cintaku kepadamu. Jadi apa yang harus aku tulis lagi, akupun tak tahu. Maka, tanyakanlah tetang rasaku pada dedaunan yang melayang ditiup angin sambil mendendangkan puisi cinta yang aku tulis dipunggungnya. Dengarkanlah dendangnya sayang:


Aku suka matamu
karena mata itu selalu memandangku sebagai manusia sempurna


Aku suka telingamu
karena telinga itu tidak pernah lelah mendengar keluh kesahku


Aku suka bibirmu

karena bibir selalu mengeluarkan pujian yang t
idak gombal, kritikan yang membangun dan doa-doa yang tulus

Aku suka tanganmu

karena tangan itu selalu mengenggamku dalam suka duka, sehat sakit, tawa tangis, kaya miskin


Aku suka tubuhmu

karena tubuh itu selalu memelukku erat demi menghantarkan kekuatan


Aku suka kakimu

karena kaki itu selalu setia melan
gkah mendampingiku kemanapun aku pergi

Aku suka kamu...
seluru
hnya...
Aku tergila-gila padamu

Padamu seutuhnya...

Untuk lebah madu-ku tersayang

Kuhadiahkan kecupan di bibirmu

Kecupan yang lebih manis dari madu


Selamat U
lang Tahun sayang...


NB:
Sumpah dan suer say, setengah mati nyari kue yang berbentuk lebah sesuai dengan arti namamu dan berwarna pink sesuai dengan warna kesukaanmu... Huh! Demi cinta... Cinta oh cinta... Beginilah cinta... deritanya tiada akhir....

Anniversary tahun ini



Dari mana yha awalnya kenapa aku bisa jatuh cinta kepadamu??? Mungkin orang-orang yang pernah melihatmu akan bilang bahwa aku jatuh cinta kepadamu karena kamu cantik. Iya seh kamu emang cantik, dan cuma orang aneh yang bilang kamu nggak cantik. Sebagai perempuan, kecantikan kamu itu sempurna...

Tapi, kalau benar aku jatuh cinta padamu karena kamu cantik, mengapa aku butuh waktu hingga tiga tahun untuk meyakinkan diriku bahwa aku mencintaimu??? Bukankah cukup waktu 2 menit untuk cinta yang datang dari mata lalu turun ke hati? Kalau gitu berarti aku tidak jatuh cinta pada fisikmu.

Berawal dari hari itu, saat aku ditugaskan untuk membeli peralatan Sekolah Minggu, aku memilih kamu untuk menemaniku. Bukan, sekali lagi bukan karena kamu tercantik diantara teman-temanmu, tapi karena cuma kamu yang masih libur sekolah. Dan hari itu untuk pertama kalinya kita pergi berdua meski telah tiga tahun kita berteman. Mungkin... hari itulah aku jatuh cinta padamu... karena sejak hari itu aku tidak berhenti memikirkanmu, dan bukankah sejak hari itu juga kamu selalu merindukanku???

Memang semua berawal dari jauh sebelum hari itu, aku sudah mengagumi pribadimu yang sabar dan kau sudah jatuh cinta pada kharismaku, pada caraku membacakan puisi, tapi mungkin hari itu adalah moment dimana kita yakin tentang perasaan khusus yang kita miliki satu sama lain.

Mulai hari itu kan kita jadi sering membuat pertemuan-pertemuan. Kita mencari-cari alasan untuk bisa bertemu. Entah memintamu mengantarku membeli baju untuk papaku, atau menjemputmu di sekolah, atau menemanimu belajar, atau mengantarmu mencari tempat kuliah. Juga kamu yang terkadang pura-pura sakit supaya aku jenguk. Intinya kita sering bertemu, dan tidak ingin saling melepas.

Ah... masa PDKT memang masa yang paling indah. Aku jadi benar-benar ganjen. Berdandan habis-habisan. Aku selalu wangi dan motorku selalu bersih. Masa PDKT adalah masa pengorbanan gila-gilaan, kamu ingat??? bahkan aku rela membantu kakakmu mengupas berkilo-kilo kacang hingga tanganku keriput hanya agar bisa bersamamu. Duh say kalau nggak demi kamu aku nggak mau deh ngupasin kacang yang banyaknya naujubileh satu persatu. Atau kamu ingat, aku menempuh jarak puluhan kilo meter hanya untuk meminjam bukumu, semua aku lakukan hanya untuk berjumpa denganmu. Meski hanya sebentar, tapi aku rela melakukan semuanya, karena berjumpa denganmu adalah candu untukku. Halah!!!

Hingga malam itu, rasanya kita tidak bisa lagi membohongi perasaan dan bersembunyi dibawah moral dan etika. Kuberanikan diri, dua tahun lalu dalam ruang gelap tanpa setitikpun cahaya, kutanyakan padamu,
"Kamu cinta aku?"
"Iya"
kamu jawab malu-malu. Hatiku penuh dengan bunga, ada yang putih dan ada yang merah.
"Kalau gitu kita jadian yha???"
"Iya, ya udah jadian" kamu jawab dengan lebih malu-malu

Aha..... Sekarang sudah dua tahun... Nggak berasa yha??? Dua tahun bersamamu adalah dua tahun terbaik dalam hidupku. Meski badai dan cobaan datang, tapi ingin kukatakan hal yang bukan gombal bahwa aku bahagia berasamamu, lebih dari yang mereka tahu...

Hai Karyawan, Bertobatlah!!!

 Peringatan: Tulisan ini hanya boleh dibaca oleh para karyawan yang sering madol ke mall saat jam kerja.  Asal mula ceritanya begini temen-temen. Berhubung kerjaanku membutuhkan daya imajinasi dan konsentrasi yang tinggi, maka wajar toh kalau aku jalan-jalan ke mall pada saat jam kerja. Wajarkan??? Iyalah... Jawab iya aja yha, dari pada saat baca blog ini, laptop, or compi or HP kamu nyetrum gara-gara tersengat santet dariku. Horor kan???  Nah dari dulu kalau aku belum ada ide padahal cetakan sudah kena dateline, maka kebiasaanku adalah jalan-jalan ke mall supaya kali-kali aja nemu ide segar berhubung suasana mall kan juga segar tuh. Tadinya seh ke mall cuma mau cuci mata or liat-liat barang unik. Tapi lantaran barang-barang itu terlalu menggoda maka acara cuci mata berubah jadi acara shoping ala emak-emak. Gimana nggak, lah wong belanjaannya adalah ember, seprey, handuk, bantal, loyang kue, piring, sendok, gelas, bra, celana dalam, panci dan penggorengan. Dalam hal ini si mami jadi sayang setengah mati sama aku, secara walaupun tampang preman begini, aku suka banget "merabot", artinya membeli peralatan rumah tangga. Sampe-sampe satpam kantor sering banget ngeledekin kalau aku balik ke kantor bawa ember, kain pel dan sapu, "Mbak Deni, abis dipecat yha sama nyonya yha???" Aku langsung nyahut, "Siaulll, emang lo kira gue inem pelayan montok apa pak???"  Nah ibarat kata pepatah, sepandai-pandainya tupai loncat pasti bakal turun berok juga eh maskudnya bakal jatoh juga. Siang itu, saat aku lagi milih-milih kaos ipin upin (aku lagi nyari kostum ipin upin yang ukurannya 20 untuk dipake sendiri. Tapi kayaknya langka!!! Kalau ada, tolong kasih tahu yha beli dimana!!!), tiba-tiba aku kaget banget saat bertabrakan dengan seorang lelaki gemuk, berjenggot dan berkaca mata. Pasalnya yang bikin aku kaget bukan gemuk dan jenggotnya, tapi karena perasaanku mengatakan bahwa aku mengenal sosok lelaki itu. Alamak Si Jambul.  "GLEK, mampus gue!!!" Ucapku dalam hati. Yaeyalah gimana nggak panas dingin secara si Jambul adalah staff HRD yang jutek dan galak banget. Konon kabarnya, kata temanku si Tommy, si Jambul itu kena penyakit "MEVDY" Apaan tuh? Nggak tahu deh, yang jelas itu julukan yang diberikan si Tommy. Katanya, Mevdy artinya Menstruasi Every Day. Iya juga seh, secara itu cowok emang lebih galak dari pada emak-emak yang kehilangan baskom.  Udah terlanjur tabrakan gini mau nggak mau aku nyapa dia deh, "Jambul!!" "Loh Den, ngapain lo di sini???" "Gue mau... mau... hm.. refill tinta Bul." "Loh kok ada di toko baju?" "Ya kebetulan liat kaos ipin upin, sapa tahu ada yang cocok sama elo." "Siaul, ngeledek gue yha" Si Jambul berkacak pinggang, "Hm... Madol lo yha???" "Lah... Pan gue dah bilang refill tinta." "Refill tinta itu di area komputer lantai 4, bukan di toko baju lantai 2." Asem deh, sifat juteknya si Jambul udah kambuh. "Hayo lo. Madol lo yha Den???" "Yeeee.. kenapa seh lo nggak percaya? Nah elo sendiri ngapain di sini???" Kali ini Si Jambul yang kaget , "Ya gue kan... Ada urusan" "Urusan kantor??? Di toko baju??? Bah!!!" "Ssssttt. Suara lo tuh kenceng banget seh Den. Gini neh, anak gue mau ulang tahun. Jadi gue cari kado. Udah elo diam-diam aja, jangan cerita sama yang lain, gue juga nggak bakal bilang-bilang sama yang lain kalau lo madol" "Eh gue nggak madol yha, isi tinta!!!" "Sama aja!!! Intinya sekarang gue ngeliat lo di toko baju anak-anak. Kalau lo mau aman, yha lo juga harus jaga rahasia gue dong. Ok Den???" "Halah, Ya udahlah. Oke oke!!!" aku mengangkat kedua jempolku yang montok itu dan langsung ngacir. Iyalah ngapain lama-lama ketemu orang HRD di mall pada saat jam kerja. Bikin mati gaya aja.  Setelah ngacir meninggalkan si Jambul, aku langsung menuju toko bra untuk membeli beberapa bra buat Mel. Nggak sengaja aku melirik jam tangan. Busyeeettt!!! Ya Ampuuunnn!!! Huh!!! Rasanya pengen banget jedotin kepala ketembok!!! SIAUL KENAPA AKU JADI KETAKUTAN SAMA SI JAMBUL SEH??? SECARA INI KAN JAM 12.20, JAM MAKAN SIANG CHOY!!!. ITU TANDANYA AKU BISA BEBAS MAU JALAN KEMANA PUN, ASAL JAM 13.00 UDAH ADA DI KANTOR LAGI.  Nggak habis mikir kenapa aku jadi pake acara takut sama si Jambul seh tadi??? Lagian si Jambul juga kenapa jadi takut sama aku yha??? Ketahuan deh jangan-jangan selama ini dia juga sering madol. Ini neh akibat sering madol jam kerja, bawaanya jadi parno. Nggak bersalah malah jadi ngerasa salah. Kapok deh!!! Beneran kapok!!! Lain kali kalau lagi bete mending godain si Tommy aja ah.  So pesanku pada tulisan kali ini adalah: bekerjalah dengan baik. Jangan suka bolos! Jangan suka jalan-jalan pas jam kerja. Jadi karyawan teladan yang datang tidak terlambat, dan pulang tidak duluan. OCREEEE???  Oh iya, ending ceritanya gini temen-temen. Pukul 16.30 saat sedang absen pulang, aku ketemu si Jambul di tempat absen, dan dengan serempak kami langsung ngomong: "Tadi pas kita ketemu di mall itu, pas jam makan siang loh!!!" Dan... Saudara-saudara yang terkasih, untuk pertama kalinya dalam hidup ini, akhirnya aku bisa tertawa bareng si Jambul yang selama ini banyak ditakuti karyawan dengan julukan "Menstruation Every Day" Hebatkan aku??? Hai Karyawan, Bertobatlah!!!  Peringatan: Tulisan ini hanya boleh dibaca oleh para karyawan yang sering madol ke mall saat jam kerja.  Asal mula ceritanya begini temen-temen. Berhubung kerjaanku membutuhkan daya imajinasi dan konsentrasi yang tinggi, maka wajar toh kalau aku jalan-jalan ke mall pada saat jam kerja. Wajarkan??? Iyalah... Jawab iya aja yha, dari pada saat baca blog ini, laptop, or compi or HP kamu nyetrum gara-gara tersengat santet dariku. Horor kan???  Nah dari dulu kalau aku belum ada ide padahal cetakan sudah kena dateline, maka kebiasaanku adalah jalan-jalan ke mall supaya kali-kali aja nemu ide segar berhubung suasana mall kan juga segar tuh. Tadinya seh ke mall cuma mau cuci mata or liat-liat barang unik. Tapi lantaran barang-barang itu terlalu menggoda maka acara cuci mata berubah jadi acara shoping ala emak-emak. Gimana nggak, lah wong belanjaannya adalah ember, seprey, handuk, bantal, loyang kue, piring, sendok, gelas, bra, celana dalam, panci dan penggorengan. Dalam hal ini si mami jadi sayang setengah mati sama aku, secara walaupun tampang preman begini, aku suka banget "merabot", artinya membeli peralatan rumah tangga. Sampe-sampe satpam kantor sering banget ngeledekin kalau aku balik ke kantor bawa ember, kain pel dan sapu, "Mbak Deni, abis dipecat yha sama nyonya yha???" Aku langsung nyahut, "Siaulll, emang lo kira gue inem pelayan montok apa pak???"  Nah ibarat kata pepatah, sepandai-pandainya tupai loncat pasti bakal turun berok juga eh maskudnya bakal jatoh juga. Siang itu, saat aku lagi milih-milih kaos ipin upin (aku lagi nyari kostum ipin upin yang ukurannya 20 untuk dipake sendiri. Tapi kayaknya langka!!! Kalau ada, tolong kasih tahu yha beli dimana!!!), tiba-tiba aku kaget banget saat bertabrakan dengan seorang lelaki gemuk, berjenggot dan berkaca mata. Pasalnya yang bikin aku kaget bukan gemuk dan jenggotnya, tapi karena perasaanku mengatakan bahwa aku mengenal sosok lelaki itu. Alamak Si Jambul.  "GLEK, mampus gue!!!" Ucapku dalam hati. Yaeyalah gimana nggak panas dingin secara si Jambul adalah staff HRD yang jutek dan galak banget. Konon kabarnya, kata temanku si Tommy, si Jambul itu kena penyakit "MEVDY" Apaan tuh? Nggak tahu deh, yang jelas itu julukan yang diberikan si Tommy. Katanya, Mevdy artinya Menstruasi Every Day. Iya juga seh, secara itu cowok emang lebih galak dari pada emak-emak yang kehilangan baskom.  Udah terlanjur tabrakan gini mau nggak mau aku nyapa dia deh, "Jambul!!" "Loh Den, ngapain lo di sini???" "Gue mau... mau... hm.. refill tinta Bul." "Loh kok ada di toko baju?" "Ya kebetulan liat kaos ipin upin, sapa tahu ada yang cocok sama elo." "Siaul, ngeledek gue yha" Si Jambul berkacak pinggang, "Hm... Madol lo yha???" "Lah... Pan gue dah bilang refill tinta." "Refill tinta itu di area komputer lantai 4, bukan di toko baju lantai 2." Asem deh, sifat juteknya si Jambul udah kambuh. "Hayo lo. Madol lo yha Den???" "Yeeee.. kenapa seh lo nggak percaya? Nah elo sendiri ngapain di sini???" Kali ini Si Jambul yang kaget , "Ya gue kan... Ada urusan" "Urusan kantor??? Di toko baju??? Bah!!!" "Ssssttt. Suara lo tuh kenceng banget seh Den. Gini neh, anak gue mau ulang tahun. Jadi gue cari kado. Udah elo diam-diam aja, jangan cerita sama yang lain, gue juga nggak bakal bilang-bilang sama yang lain kalau lo madol" "Eh gue nggak madol yha, isi tinta!!!" "Sama aja!!! Intinya sekarang gue ngeliat lo di toko baju anak-anak. Kalau lo mau aman, yha lo juga harus jaga rahasia gue dong. Ok Den???" "Halah, Ya udahlah. Oke oke!!!" aku mengangkat kedua jempolku yang montok itu dan langsung ngacir. Iyalah ngapain lama-lama ketemu orang HRD di mall pada saat jam kerja. Bikin mati gaya aja.  Setelah ngacir meninggalkan si Jambul, aku langsung menuju toko bra untuk membeli beberapa bra buat Mel. Nggak sengaja aku melirik jam tangan. Busyeeettt!!! Ya Ampuuunnn!!! Huh!!! Rasanya pengen banget jedotin kepala ketembok!!! SIAUL KENAPA AKU JADI KETAKUTAN SAMA SI JAMBUL SEH??? SECARA INI KAN JAM 12.20, JAM MAKAN SIANG CHOY!!!. ITU TANDANYA AKU BISA BEBAS MAU JALAN KEMANA PUN, ASAL JAM 13.00 UDAH ADA DI KANTOR LAGI.  Nggak habis mikir kenapa aku jadi pake acara takut sama si Jambul seh tadi??? Lagian si Jambul juga kenapa jadi takut sama aku yha??? Ketahuan deh jangan-jangan selama ini dia juga sering madol. Ini neh akibat sering madol jam kerja, bawaanya jadi parno. Nggak bersalah malah jadi ngerasa salah. Kapok deh!!! Beneran kapok!!! Lain kali kalau lagi bete mending godain si Tommy aja ah.  So pesanku pada tulisan kali ini adalah: bekerjalah dengan baik. Jangan suka bolos! Jangan suka jalan-jalan pas jam kerja. Jadi karyawan teladan yang datang tidak terlambat, dan pulang tidak duluan. OCREEEE???  Oh iya, ending ceritanya gini temen-temen. Pukul 16.30 saat sedang absen pulang, aku ketemu si Jambul di tempat absen, dan dengan serempak kami langsung ngomong: "Tadi pas kita ketemu di mall itu, pas jam makan siang loh!!!" Dan... Saudara-saudara yang terkasih, untuk pertama kalinya dalam hidup ini, akhirnya aku bisa tertawa bareng si Jambul yang selama ini banyak ditakuti karyawan dengan julukan "Menstruation Every Day" Hebatkan aku???

Pelupa Berat...



Oke... Aku ngaku, aku ini punya kelemahan dalam mengingat umur, alamat, nama bahkan wajah orang. Baru saja aku berkenalan dengan seseorang, tiba-tiba aku bisa lupa siapa nama orang itu. Semua info itu memang masuk ke otakku, tapi hanya sebatas mengucapkan "hai" lalu dengan segera semua info itu pergi lagi. Jadi jangan ngambek kalau seandainya kamu chat denganku, lalu tiba-tiba aku bertanya berapa umurmu untuk yang kelima kalinya, atau bertanya di mana kamu tinggal untuk ketujuh kalinya, atau tiba-tiba aku bilang, "Wah di tempatmu kan makanan khasnya empek-empek," padahal udah lima kali kamu bilang kalau kamu bertempat tinggal di Semarang. Bukan karena kamu tidak penting sehingga mudah dilupakan, tapi karena aku adalah pelupa berat. Sampai-sampai aku lupa nama blog-ku, sehingga blog ini jarang di-up date (Lebay mode on).

Nah bagaimana kalau si pelupa ini bertemu dengan teman SMP-nya? Mari kuceritakan kisahku di weekend ini. Saat aku dan Mel jalan-jalan ke mall mencari kado ulang tahun salah seorang teman, sekonyong-konyong aku dikejutkan oleh seorang perempuan yang berlari kencang ke arahku dan serta merta memeluk tubuhku, mungkin lebih tepatnya menomprok tubuhku. Aku hampir limbung oleh tabrakan tubuhnya yang besar, untung saja aku ingat jurus-jurus Kung Fu yang diajarkan oleh kakek moyang, dengan kekuatan tenaga dalam, aku menghentak tubuhku hingga tidak terjatuh.

"Deniiiiiiiiiiiiiii, kangen gue." Perempuan itu mencium pipiku kiri dan kanan, kebayangkan gimana mukanya Mel, mirip banget kayak nenek-nenek yang ketelak sirih. "Makin montok aja lo!" Pempuan itu mencubit kedua pipiku, wajahku yang inoncent pasti makin terlihat imut saat itu.
"Busyeet!" Hanya kata itu yang terucap dari bibirku
"Deni, elo inget gue kan??? Waktu SMP gue duduk di depan bangku lo??? Awas lo ya kalau lupa. Inget kan lo?"

Jujur aku lupa, tapi melihat semangat dan kehebohan perempuan itu, aku jadi nggak tega kalau harus jujur, jadi terpaksa deh aku melakukan kebohongan. "Inget dong!"
"Hayo, siapa nama gue?" Nah loh, kalau sudah ditanya gini aku bakal keluar keringat dingin. Wajahnya seh masih aku ingat dikit-dikit, tapi untuk mengingat namanya bener-bener nggak ada penerawangan sama sekali deh. Hm... siapa yah namanya? Dian kali ya? Ah masa seh Dian? Hm... Tapi kata orang nama pertama yang muncul di otak, pasti nama itulah yang benar.

"Ya gue inget elo-lah" Aku menepuk-nepuk punggungnya, perempuan itu langsung nyengir lebar, "Gue inget dong sama elo Dian."
Perempuan itu melihat wajahku dan langsung meluncurkan protes, "Dian??? Gue bukan Dian, NGACO!"
Mel langsung melirikku, seolah dia ingin mengisyaratkan bahwa dia punya firasat buruk. Aku hanya tersenyum, mencoba menebak lagi.
"Mutia ya?"
"Bukan!"
"Ah pasti Betrix"
"Bukan"
"Chirstine"
"Ngaco"
"Ah... Catur kan?"
"Halah bukan"
"Nia ya?"
"Bukan"
"Amanda?"
"Bukan"
Mel cengo abis mendengar percakapan kami yang tidak jelas.
"Aduh siapa seh lo? Ayu? Nunging? Novi?"
"Bukan, bukan bukan."
"Nola? Nana? Selly?"
"Bukan semua"
"Asih? Amir? Joko? Parto? Memet? Jalangkung? Kuntilanak? Kolongwewe?"
"BUKAN... NGACO LO!!!"
"Iya, Jadi siapa dong?"
"Gue Anisa Den... Masa elo lupa."
Aku dan Mel menarik nafas lega. Seolah penderitaan telah berakhir.

"Ya ampuuuun... Iya iya... Gue inget sekarang. Elo Nisa, Nur Anisa..."
"Ngaco lagi lo Den, nama panjang gue bukan Nur Anisa. Ngaco lo!"
"Siapa dong? Khairunisa?"
"Bukan!"
"Anisawati?"
"Bukan."
"Anisa Triastuti?"
"Bukan."
"Anisa Soebandono?"
"Ngaco Lo, itu mah artis. Alyssa Seobandono kale!"
"Anisa Wibisono?"
"Bukan."
"Sapa dong? Anisa Bahar?"
"Bukan. Itu mah penyanyi dangdut."
"Anisa Winata?"
"Bukan!"
"Anisa Prancis? Anisa Monalisa?"
"BUKAN!!!"
"Anisa Arwarna?"
"Itu mah Tukul Den."
"Aduh... Siapa seh??? Anisa Sukmawati?"
"Bukan, bukan!"
"Anisa Pangastuti?"
"Halah."
"Oke.. oke gue nyerah, Anisa siapa seh???"
"Anisa Sulaiman..."

Lagi-lagi, Aku dan Mel menarik nafas lega...
"Oh Iya... Anisa Sulaiman... Elo yang duduk sama Ello kan yha?"
"Bukan..."

Mel yang sudah tidak kuat menangung penderitaan ini, segera mengginggalkan aku dan Anisa

"Sama Rully?"
"Bukan."
"Anto? Juki? Yudi?"
"Bukan, bukan bukan!"
"Ahmad? Subandi?."
"Udah.. udah udah Den. Gue dah cape. Yang duduk sama gue itu Adhi."
Aku menarik nafas lega, kali ini sendiri karena Mel sudah hilang entah kemana.

"Oh iya Adhi. Adhi yang nama panjangnya..."
"UDAH CUKUP DEN!!! Gue udah nggak kuat..."
"Huahahhahaha." Aku tidak mampu menahan tawa melihat Anisa yang kelelahannya seperti habis memandikan 5 ekor gajah dan memberi minum 10 ekor unta. Aku yakin Anisa bener-bener kapok dan nyembah nyembah sama Tuhan supaya tidak bertemu aku lagi.

Setelah mengakhiri percakapan panjangku dengan Anisa yang sebenernya isi percakapan itu didominasi oleh tebak menebak, aku mendapati Mel sudah duduk di kursi Mc Donald dengan satu cup McFlurry yang sudah hampir habis.
"Aku udah pesenin cocacola neh... Pasti kamu capek banget kan?"
"Ho oh, iya..."

Dilema Lampu Tidur





Beli nggak ya? Beli nggak nih? Beli nggak sih? Bingung banget. waktu pertama kali lihat lampu ini di mall, jujur aku dan Mel langsung mupeng secara ngaku nggak sih kalau model lampu ini lucu, artistik dan unik.

Nah, masalahnya, nggak mungkin kan kami pajang lampu tidur model beginian di kamar cewek. Kalau ada cowok masuk bisa-bisa mereka tersinggung.

So...

Dalam beberapa bulan ini, aku berpikir keras untuk mengambil keputusan ini. Keras sekali, sakin kerasnya aku sampai nggak sempat makan siang (tapi kalau makan pagi dan malam nambah sih), nggak sempat mandi (kalau ini sih emang hobby-ku hehehe), nggak sempat bersih-bersih ruman (loh emang pernah? Bukannya semua dikerjain Mel?), nggak sempat menghadiri rapat dewan direksi (serasa deh), nggak sempat menghadiri pernikahan Marcella Zalianty dan Ananda Mikola (kayak diundang aja!, nggak sempat menghadiri undangan pidato di Gedung Putih (Cuih!), bahkan yang paling menyakitkan adalah nggak sempat update blog, hikh hikh hikh (ampun dah!).

Setelah melewati fase disonansi kognitif yang menyita tenaga dan pikiran, akhirnya aku putuskan untuk...

BELI!!! Eng ing eng! (apa yang terjadi terjadilah)

Harganya Rp. 75.000,-

Silahkan nilai sendiri apakah lampu tidur ini memang membuat resah, memunculkan konflik batin dan mendatangkan disonansi kognitif.





Soal Symbol...












Beberapa hari yang lalu, saat hendak mengurus dokumen pribadi, aku terpaksa ngobrak-ngabrik lemari nyokap. Tiba-tiba aku menemukan sebuah dompet besar yang antik. Antik? Yaiyalah secara di dompet itu ada tulisan “Barang Berharga.” Kan aku jadi mendadak curiga kalau isi dompet ini adalah emas, surat tanah, or surat rumah. Hm… siapa tahu sebelum meninggal nyokap pernah beliin aku harta warisan tapi lupa bilang-bilang. Membayangkannya aku langsung cengar-cengir sendiri.

Butuh waktu lama dan tenaga besar untuk membuka dompet itu. Sumpah, setengah mati deh! Secara itu token pembuka dompet itu sudah karatan nggak jelas. Jadi ngebukanya aja bisa bikin tangan tetanus. Tapi demi masa depan, demi kesejahterahan, demi Indonesia, maka dengan segala upaya dan tenaga akhirnya. Ups! Dompet itu terbuka juga.

Dag

Dig

Dug

Deerrr. Terungkaplah isi dompet.

Astaga. Apaan nih? Kayak fosil pithecanthropus ereksi eh erectus, tapi kok kecil-kecil begini. Kuangkat tinggi-tinggi benda purbakala itu. Dan setelah melakukan penyelidikan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Akhirnya aku bisa memprokramirkan kemerdekaan Republik Indonesia, eh maksudnya aku sudah bisa memastikan benda antik apa gerangan. Ternyata benda dalam dompet itu adalah… TALI PUSAR… Ada dua, dan masing-masing bertuliskan namaku dan nama abangku.

GUBRAKKK!!! Nggak jadi kaya deh! Boro-boro ada yang mau bayarin nih tali pusat semilyar, diobral aja pada ogah. Kecuali, kalau tiba-tiba otakku sepintar Einstein yang bisa membuat penemuan produksi bahan bakar dengan menggunakan minyak jelanta bekas goreng ikan asin. Baru deh tuh pada rebutan untuk memiliki tali pusar si genius ini sebagai jimat. Gimana nggak pada rebutan, secara orang juga pada tahu soal kemampuan otakku yang pas-pasan.

Tapi… Lepas dari kecewa karena isi dompet itu bukan emas batangan atau surat tanah atau surat rumah, finally aku ngerasa senang juga. Untung aja isinya tali pusar, bukan Mas Yono sales panci presto yang kalau nawarin barang bisa memunculkan niat bunuh diriku dan untung aja isinya bukan surat utang keluarga yang perlu aku bayar. (jayus banget, kan? DeNi gitu loh!).

Biar bagaimanapun juga tali pusar itu telah menjadi saksi pengorbanan nyokap waktu melahirkan aku, dan juga telah menjadi saksi lahirnya orang keren dan imut ke muka bumi yang fana ini. Fiuh!

Jadi untuk menghargai penemuanku itu, aku punya ide untuk membuat plakat yang didalamnya ditaruh tali pusar milikku dan milik abangku. Kan jadi keren tuh kalau dipajang. So, besoknya aku langsung membawa kedua tali pusar itu ke tukang plakat dengan penjelasan:

“Tolong ya Bang. Tali pusar ini di masukin ke dalam plakat terus dibawahnya ditulis nama saya, terus tanggal lahir dan nama mama dan papa saya. Oh iya jangan lupa symbol jenis kelaminnya ya. Oke. Jangan salah ya Bang. Awas loh kalau salah,saya nggak akan ke Taman Safari lagi.”

Tukang bikin plakat langsung monyong. Seperti dapat elmu dadakan, tiba-tiba aku jadi bisa baca pikirannya:

“Apa hubungannya salah bikin plakat sama nggak mau ke Taman Safari? Kayaknya nih cewek sinting deh. Pantes aja hidungnya gede.”

Loh jangan gitu dong Mas tukang plakat? Apa hubungannya sinting sama hidung? Huh! Ini sebenernya yang sinting siapa sih? Aku jadi punya firasat buruk sama ini orang nih.

Tik, tik, tik, waktu berdetik… akhirnya seminggu berlalu. Si tukang plakat nelepon kalau plakatnya sudah jadi. Buru-buru aku datangin tuh toko. Dan pas lihat hasilnya… GUBRAK!!! Bener aja kan tuh firasat gue!

Ya ampun, itu symbol jenis kelamin kenapa jadi begitu modelnya ya?. Symbol untuk jenis kelamin perempuan kan mestinya tanda plusnya di bawah. Ini malah miring ke atas kayak symbol laki-laki. Maksudnya apa ya? Apa ini tuh tukang plakat bisa baca kalau aku… Kalau aku… Hihihihi…

Ah, bodo amat deh…